Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu poin dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib dilaksanakan oleh seluruh civitas akademika. Pada hari Sabtu tanggal 2 September 2023, program studi Manajemen Sumberdaya Perairan mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Villa Talon Permai, Kamal, Bangkalan. Kegiatan yang berjudul ‘Pelatihan Budidaya Kepiting Karapas Lunak (Soka)’ ini dihadiri oleh Kepala Desa Kamal Bapak H. Samudri, Bapak Taufik selaku Pendamping Desa Kamal, Ketua RW.7 Bapak Mashudi, Ketua RT.1 sampai RT.6, dan Ibu-Ibu Pengurus PKK RW.7, serta seluruh dosen dan PLP dari program studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Trunojoyo Madura. Mahasiswa berjumlah 14 orang yang terdiri dari 3 mahasiswa MBKM-KKNT dan 11 orang dari HIMASURA juga ikut hadir dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB dan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama yaitu dari perwakilan program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Prof. Dr. Ir. Muhammad Zainuri, S.Pi., M.Sc. Beliau memberikan penguatan dan penegasan untuk berkolaborasi dengan masyarakat desa secara berkelanjutan. Sambutan yang kedua yaitu disampaikan oleh Kepala Desa Kamal, Bapak H. Samudri. Beliau menyampaikan apresiasinya kepada Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan UTM yang telah memberikan bimbingan dan pengetahuan terkait pengelolaan budidaya kepiting soka. Menurutnya, sinergi dan kolaborasi seluruh stakeholder penting untuk bersama-sama memajukan Desa. Setelah sesi sambutan selesai, dilanjutkan dengan pembacaan do’a agar segala kegiatan yang dilaksanakan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Do’a dibawakan oleh Bapak Arif, PLP program studi MSP Universitas Trunojoyo Madura.
Pada sesi penyampaian materi, Bu Indah Wahyuni Abida, S.Pi., M.Si. selaku narasumber membawakan judul Manajemen Kualitas Air pada Budidaya Kepiting dan Pakannya. Dalam pemaparan beliau, sangat penting untuk memanajemen kualitas air jika ingin berbudidaya kepiting. Pengelolaan kualitas air seperti filtrasi, mengontrol parameter kualitas air seperti salinitas sangat berpengaruh pada kondisi kepiting. Demikian juga dengan manajemen pakan, tidak boleh sembarangan memberikan pakan kepada kepiting. Jika kepiting tidak mau makan, lebih baik kepiting dipuasakan karena kepiting mampu hidup selama 5 hari tanpa makanan. jika terus menerus diberi pakan, sedangkan kepiting dalam kondisi tidak mau makan, maka akan terjadi penumpukan sisa pakan yang nantinya akan menurunkan kualitas air itu sendiri. Peserta yang merupakan pengelola budidaya kepiting di RW.7 sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Bu Indah karena selain ilmu baru yang didapatkan, penjelasan narasumber adalah solusi terhadap permasalahan teknis yang selama ini dihadapi pengelola budidaya kepiting di RW.7. Diskusi interaktif pun berjalan lancar antara pemateri dan peserta dan berlanjut ke pemaparan dari Bapak Dr. Haryo Triajie, S.Pi., M.Si. sekaligus pelatihan mutilasi kepiting. Beliau menjelaskan dan mempraktekkan bagaimana memutilasi kepiting dengan benar. Kepiting yang sudah dimutilasi kakinya, akan tumbuh kaki-kaki yang baru bersamaan dengan otak kepiting memerintahkan untuk mengganti kulit (moulting). Proses moulting inilah yang nantinya membuat kepiting bertambah besar, gemuk, dan bobotnya pun ikut bertambah. Selanjutnya, sesi penyerahan cinderamata berupa gentong air dari prodi MSP ke warga RW.7 diwakili oleh Bapak Abdus Salam Junaedi, S.Si., M.Si. selaku koordinator program studi MSP. Cinderamata diberikan kepada Ibu Rita Ningsih selaku Ketua PKK RW.7. Terakhir, acara ditutup dengan foto bersama.


Gambar 2. Dr. Haryo Triajie, S.Pi., M.Si. sedang mempraktekkan cara memutilasi kepiting






